“Kalau Enyek Setoḕk, begini lagunya,” kata Kadir, seraya menabuh alat musik ‘Gule Gending’. Jemari tangannya lincah memukul deretan kotak yang nempel pada bodi alat musik itu.  Sesekali jemarinya mengetuk-ngetuk bagian atas—berfungsi sebagai gong atau bas alat musik itu. Gerakan tubuhnya condong, tumpuan kaki kiri-kanan bergantian melemah, bak lenggang orang lelah berjalan. Ini mengesankan Kadir—warga Dusun Karang Dalam, Desa Kembang Kerang Daye, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat—bercerita tentang tema lagu Enyek Setoēk: Enyek/Njek = tekan, Setoēk = sebelah. 

‘Gule Gending’, berasal dari kata gule, yakni gula pasir, dan gending berarti tabuh/menabuh. Gula diracik dengan tepung terigu, digoreng dan dibentuk jadi produk gula-gula, berupa helai-helai benang atau pun helai rambut bertekstur halus. Produk  camilan itu tersimpan dalam wadah taka’/rombong yang juga alat musik yang ditabuh pemain saat menjualnya. Jadi gule gending berarti makanan dan seni tabuh. 

Di Lombok produk ‘manisan’ ini umumnya disebut gule gending, meski di Lombok Timur dikatakan gule janggi. Di Praya, Ibu Kota Lombok Tengah berjuluk bulun meong (bulu kucing). Di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, disebut ‘bulun bembe’ (kambing). Di Kabupaten Sumbawa dinamakan tepung gending, lalu  kre jamba dan kre ngau di Kabupaten Dompu dan Bima. Sejumlah kampung di wilayah Cakranegara, Mataram menyebut kupak-kupak – merujuk suara kantong rombong saat dipukul dengan jari. Masyarakat Nusantara menyebutnya gulali gula pasir, gulali gula jawa, gula ‘rambut nenek’ dan gulali kapas.

Alat musik setinggi 210 mm ini berbahan plat seng dibentuk setengah lingkaran. Bagian atas, bawah dan dindingnya tertutup – disebut taka’ atau tangka’ (rombong) untuk wadah gula-gula. Dua lubang bagian atas taka’: satu berdiamter 120 mm -jalan keluar-masuk tangan merogoh gula-gula, dan satu lubang bergaris tengah 150 mm- tempat menaruh kertas pembungkus ‘sugar candy’ itu. Bagian depan rombong nempel kantong/kotak empat persegi setinggi 138 mm, tebal 47 mm,  lebar 65 mm, berjumlah 6 kotak terbuka bagian atasnya berfungsi sebagai sumber melodi. Sri Yaningsih dkk (1991) menduga tahun 1955, kotak itu semula berjumlah 3 kotak, bertambah jadi 6 kotak: 5 untuk melodi, 1 kotak penyimpan uang hasil jualan. Kedua ujung rombong itu ada tempat menyantel selendang saat pemain menggendong rombong. 

Instrumen itu bertangga nada pentatonik: pelog dan slendro (tangga nada gamelan). Satu kajian menyebutkan, tangga nada gule gending adalah f#1, c#1, g#1, a1, dan d1. Menurut Gusye, praktisi gamelan di Mataram, notasi itu tidak berurutan. Bisa saja nada ‘la’ di urutan I,  nada ‘mi’ di urutan IV. “Urutan notasinya acak agar pemain gampang menyesuaikan pola melodi lagu yang sering dimainkan”.

Lagu gule gending antara lain Semarang (sembarang), Buaq Odaq (pinang muda), Tempong Gunung (menembus gunung), Enyek/Njeq  Setoēq, (tekan sebelah),  Njek-Embot (tekan tarik) Turun Tangis (mulai menangis) dan Bao Daye (teduh pikiran). Isi lagu adalah gambaran situasi saat pemain/penjual dalam beraktivitas. Lagu Semarang sebagai pembuka dan kode memanggil pembeli. Turun Tangis, diniatkan supaya anak-anak merengek kepada orangtuanya untuk dibelikan gula-gula itu. Tatkala pemain menempuj jalan berbukit dimainkan lagu Tempong Gunung. Lagu Bao Daye menggambarkan kegembiraan dan ketenangan bahwa penjual sudah mengantongi uang dan dagangan habis terjual. ***

Gule gending sudah diperjual-belikan tahun 1960-an. Saat itu para pedagangnya ngamen di lingkungan sekolah dan pedesaan Lombok. Malah saat itu  ada ‘gule gaet’ - gulali berbahan gula pasir, teksturnya basah, menggumpal bak permen karet. ‘Manisan’ ini dijual dua orang: seorang penabuh gule gending, dan seorang pemain alat musik ritmis, rencek - pengiring lagu. Rencek dipasang pada kotak kayu -satu sisinya bisa dibuka-tutup – jadi wadah gule gaet. Pemain rencek menarik-narik gulali dari wadahnya jika ada pembeli.

Kapan gula pasir dipakai jadi pemanis makanan-minuman, belum pasti. Namun sebagai ilustrasi, Hartono dan Dwi Bambang Santosa (2022), melihat dari generasi pembuat alat musik etno itu di Desa Kembang Kerang Daye. Generasi I Awal tahun 1930-an, dengan tokohnya Amaq Sahedep dan Pedidjah. Generasi II awal tahun 1940-an (Dahmur dan Masenah), Generasi III awal tahun 1950-an (Seham dan Srinasip).

Sebelumnya Pemerintah Kolonial Belanda (VOC) -menyusul proyek ‘tanam paksa’- memilih Lombok untuk budi daya tebu,  membangun gedung dilengkapi mesin pengolahnya di Dusun Waker, Desa Puyung, Lombok Tengah. Kata H Saufi (75), warga Dusun itu, bangunan sudah klar, sedang mesin pengolah tertahan di atas kapal pengangkut dermaga Labuhan Tereng (kini Pelabuhan Lembar, Lombok Barat). Mesin tidak sampai tujuan karena jembatan gantung yang melintasi Sungai Dodokan, Dusun Kelebut, Desa Kebun Ayu, Kecamatan Gerung (dibangun 1935-1938), konstruksinya tidak kuat menopang angkutan alat berat. Bangunan itu pun beralih fungsi sebagai pengolahan kapas dilengkapi mesin pengolah.  

PT Perkebunan Nusantara/PTPN, melanjutkan rencana Pemerintah Kolonial itu, bahkan menyiapkan lahan uji-coba tanaman tebu (seluas 5-7 hektar) di Desa Leneng, Kecamatan Praya -kini dijadikan kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri. “Tahun 1965-1966 di sekitar lokasi itu ada beberapa rumah karyawan PTPN,” ujar Dadih Permana (65), mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, di Mataram, Minggu (8/2/2026). Aktivitas pengolahan kapas berjalan beberapa tahun, namun terhenti. Kini bangunan dan mesin pengolahan  kapas hilang entah kemana. Lokasi itu juga bersalin rupa menjadi Kantor Bupati Lombok Tengah. Apakah tahun 1930-an, gula pasir lambat-laun jadi pemanis, menggantikan pemanis alami: madu, dedaunan dan kayu-kayuan yang sering dipakai nenek moyang suku Sasak,  entahlah. ***

Kadir mungkin ‘asing’ dengan itu semua. Yang diketahuinya, bikin alat musik dan meramu bahan gula-gula belajar dari para pendahulunya di kampung. Setelah jadi produk, dia ngider main ‘musik tunggal’, memburu dan menghibur pembeli. Wilayah pemasarannya adalah seputar kota Mataram. Dia tinggal menumpang di rumah keluarganya Lingkungan Sindu, Cakranegara. Di sana tinggal 35 rekan seprofesi dan sekampungnya.

Kadir bekerja sendirian meracik produk dagangannya. Gula direbus mencapai titik didih tertentu, lalu dicampur tepung terigu yang sudah digoreng dengan wajan. Campuran gula pasir- terigu menjadi agak mengeras, lalu lewat proses sedemikian rupa berbentuk gula kapas. Jam kerja Kadir pukul 08.00-13.00 wita. Kadir bisa dapat untung Rp 24.000 sehari dari total pendapatan Rp 100.000, dengan modal Rp 76.000 untuk membeli bahan: 2 kg gula pasir (Rp 14.000 per kg), 0,5 kg tepung terigu (Rp 4.000 per kg), dan 0,5 kg minyak goreng (Rp 5.000 per kg). Setelah tiga minggu berdagang di kota, sepekan lamanya dia mudik membawa hasil berdagang buat anak-istrinya, Siti Aminah, selain disisihkan untuk memperbaiki rumahnya. 

Kadir yang putus sekolah Kelas II SD juga menerima service alat musik itu.  Bulan Puasa dan Maulid merupakan hari sibuk baginya. Pasiennya adalah pedagang lokal dan pedagang gule gending yang mudik dari rantauannya di Pulau Sumbawa, Flores, Kalimantan dan Sulawesi untuk menyervis alat musiknya. Tarif jasa servis ringan Rp10.000. Jika sengnya yang keropos dirombak, tarifnya Rp15.000 per rombong. Awal 2010, dia ketiban pesanan 50 unit rombong dari sejumlah sekolah di Kota Mataram. Tahun itu dia menjual Rp 500.000 per rombong. Dia bisa menyelesaikan 10 rombong sebulan.  Kadir selalu menyediakan satu-dua stok rombong baru bagi pembeli atau yang sekadar tukar-tambah rombong.

Lebih dari sekadar manfaat ekonomi berdagang gula-gula dan bikin instrumen musik etno, Kadir- dan rekan sekampungnya- melakukan kerja kebudayaan: melestarikan budaya lokal yang terus terpinggirkan. Bahkan Kadir adalah seniman praktisi yang ‘bermono play’ menghibur, menarasikan kata-kata lewat untaian nada dan ritme untuk merekatkan emosi dari hati ke hati dengan masyarakat/pembelinya.*** 

Oleh: Khaerul Anwar (Komisi Pemanfaatan DKD NTB)